Program

Sabtu, 23 Februari 2013

Wisata Sejarah (Candi) Kota Tulungagung


By on 09.00

1. Candi Mirigambar
Candi Mirigambar terletak di desa Mirigambar, kecamatan Sumbergempol, Tulungagung. Candi ini tersusun dari batu bata beserta sebuah undakan yang dipenuhi ornamen. Meskipun hanya berbentuk reruntuhan, akan tetapi keagungannya masih bisa terlihat sampai sekarang. Keindahannya tampak pada sisa-sisa reliefnya yang terpahat halus di permukaan batu bata. Relief yang terpahat di Candi Mirigambar ini mengisahkan tentang legenda Angling Dharma, sehingga candi ini sering juga disebut dengan sebutan Candi Angling Dharma.
 
Candi Mirigambar diperkirakan dibangun pada akhir abad XII hingga akhir abad XIV, sesuai dengan relief angka yang terpahat pada candi ini yakni 1214 Saka dan 1310 Saka. Dari situ pula dapat dilihat bahwa, pembangunan candi Mirigambar tergolong cukup lama, yakni sejak akhir pemerintahan Kertanegara (Singosari) hingga masa pemerintahan Hayam Wuruk (Majapahit).

Banyaknya tinggalan-tinggalan lain di sekitar Candi MiriGambar, mengindikasikan bahwa dahulunya lokasi ini merupakan sebuah komplek percandian yang sangat luas. Sehingga tidak mengherankan jiga pembangunannya memakan waktu yang cukup lama. Tinggalan-tinggalan lain yang berada di sekitar Candi Mirigambar antara lain Bekas Pemandian Mliwis Putih, Candi Tuban, dan reruntuhan candi lain 300 m di timur Candi Mirigambar.

2. Candi Gayatri
Candi Gayatri atau bisa juga dikenal dengan Candi Boyolangu terletak di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu Tulungagung Jawa Timur. Ditemukan pada tahun 1914 oleh masyarakat desa setempat. Awalnya bangunan candi Gayatri terkubur di dalam tanah, lalu digali oleh penduduk setempat karena rupanya didalam terdapat bangunan candi beserta patung-patung kuno yang masih terkubur.
 
Candi Gayatri menurut para ahli sejarah dari BP Trowulan merupakan candi peninggalan jaman Kerajaan Majapahit. Dibangun ketika era Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk penghormatan dan makam Putri Gayatri yang bergelar Rajapatni istri keempat Raja Kertarajasa Jaya Wardhana (Raden Wijaya). Informasi tentang Candi Gayatri sebagai candi budha diperoleh dari Kitab Negarakertagama, yang menyebutkan terdapat candi budha di wilayah Boyolangu Tulungagung pada tahun 1369-1380 Masehi.

Meski Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan dengan dominasi agama hindu, tetapi candi ini tergolong candi Budha karena Putri Gayatri sepeninggal Raden Wijaya mengabdikan hidupnya sebagai biksuni hingga akhir hayatnya. Sehingga dalam kompleks bangunan Candi Gayatri ditemukan Candi Budha dengan sikap tangan arca adalah Dharmacakramuda (mengajar). Sayangnya ketika ditemukan patung-patung Budha tersebut dalam keadaan rusak dengan kepala terpenggal. Sekarang sisa dari patung-patung yang ditemukan di areal Candi Gayatri telah disimpan dan diamankan di Museum Daerah Tulungagung.

3. Candi Penampihan
Candi ini berlokasi di Dusun Turi Desa Geger kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Penampihan merupakan candi Hindu berundak. Candi Penampihan memiliki 3 teras yang membujur dari timur ke barat berada di lereng Tenggara Gunung Wilis. Dengan posisi Candi utama terletak di bagian paling atas. Bentuknya seperti timbunan padi sebagai perlambang kemakmuran.
 
Candi lain bentuknya seperti kura-kura yang dikelilingi arca naga. Mengenai candi yang susunannya berbentuk Kura-kura melambangkan perwujudan dewa-dewa Wisnu. Awalnya di atas candi ada arca Bima namun hilang. Teras kedua untuk tantri. Sedangkan di teras ketiga terletak prasasti. Prasasti tersebut bernama prasasti Tinulat. Prasasti ini ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan cerita yang tertulis di prasasti, candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad 9 hingga 10 pada era kerajaan Mataram Hindu semasa era pemerintahan Dyah Balitung. Tersebut juga dalam prasasti nama Mahesa Lalaten namun tiada sumber yang cukup mengenai siapakah sosok tersebut. Disebut juga kisah seorang Raja Putri. Diperkirakan raja putri tersebut adalah Dewi Kilisuci, seorang raja putri dari Kediri tertulis di Prasasti ada di bagian bawah.

Di candi ini dulunya juga ada arca Dwarapala namun arca tersebut hilang di tahun 2000an. Di sebelah utara ada relief dengan menggunakan gambar 3 ekor Gajah. Ada gambar hewan-hewan yang hidup di daerah ini seperti kera, burung, ular dan ayam. Candi Penampihan dulunya menjadi tempat pemujaan mulai era Mataram Hindu, Singosari, Kediri hingga Majapahit. Di prasasti tersebut tercatat juga nama Wilis yang kemudian dikenal menjadi nama gunung ini. Wilis sendiri artinya hijau, subur.


Radio Wijaya Kusuma FM

Gerbang informasi, kesehatan dan hiburan.

0 komentar:

Poskan Komentar